Blog

  • Anak Palestina dalam Bayang-Bayang Genosida Israel

    Anak Palestina dalam Bayang-Bayang Genosida Israel

    Bagi anak Palestina di Gaza, masa kecil berubah menjadi perjuangan untuk bertahan hidup. Serangan merenggut nyawa ribuan anak, sementara mereka yang selamat harus menghadapi kehilangan orang tua, rumah, sekolah, dan akses kesehatan. Alih-alih tumbuh dalam rasa aman, mereka hidup di bawah ancaman yang terus membayangi.

    Laporan Komisi Penyelidikan Independen PBB yang terbit pada Juni 2026 mengungkap besarnya ancaman tersebut. Selain mencatat puluhan ribu anak tewas dan terluka, Komisi mendokumentasikan berbagai bentuk kekerasan terhadap anak Palestina. Temuan itu juga mendasari kesimpulan Komisi bahwa penargetan anak menjadi salah satu unsur yang menunjukkan niat genosida terhadap warga Palestina di Gaza.

    Temuan PBB tentang Penargetan Anak Palestina oleh Israel

    Dalam laporan berjudul The Essence of Childhood Has Been Destroyed, Komisi Penyelidikan Independen PBB mendokumentasikan kekerasan terhadap anak Palestina sejak 7 Oktober 2023 hingga 31 Maret 2026. Laporan ini tidak sekadar menghitung korban. Komisi juga mengungkap pembunuhan yang disengaja, penahanan dan penyiksaan, kekerasan seksual, serta serangan terhadap fasilitas yang menopang kehidupan anak.

    20.179

    Anak Palestina syahid

    44.143

    Anak Palestina terluka

    Sumber: Komisi Penyelidikan Independen PBB, laporan 18 Juni 2026. Periode data 7 Oktober 2023 hingga 31 Maret 2026.

    Bentuk Kekerasan Israel terhadap Anak-Anak Palestina

    01. Penembakan Langsung

    Komisi mendokumentasikan kasus anak-anak yang ditembak menggunakan senapan runduk dan drone bersenjata. Dalam sejumlah insiden, mereka menjadi korban meskipun tidak menimbulkan ancaman. Bahkan, ada seorang anak laki-laki berusia 15 tahun yang memegang bendera putih. Temuan ini memperkuat urgensi penyelidikan menyeluruh terhadap dugaan penembakan yang melanggar hukum internasional.

    02. Serangan terhadap Tempat Tinggal dan Perlindungan

    Serangan juga menghancurkan tempat yang seharusnya melindungi anak-anak. Rumah, sekolah, dan lokasi pengungsian rusak, sehingga banyak keluarga kehilangan tempat berlindung. Akibatnya, anak-anak bukan hanya kehilangan rumah, tetapi juga ruang untuk belajar, bermain, dan berinteraksi dengan teman sebaya.

    03. Penyiksaan dan Kekerasan dalam Penahanan

    Kekerasan terhadap anak Palestina juga terjadi di tempat penahanan. Komisi mencatat laporan penyiksaan, perlakuan tidak manusiawi, serta kekerasan seksual dan berbasis gender terhadap anak. Selain melukai tubuh, perlakuan tersebut dapat meninggalkan trauma mendalam.

    04. Kondisi Hidup yang Mengancam Keselamatan

    Ancaman terhadap anak tidak berhenti saat serangan mereda. Pembatasan bantuan dan kerusakan fasilitas penting memperburuk kehidupan mereka. Kekurangan pangan meningkatkan risiko kelaparan dan malnutrisi, sedangkan rusaknya fasilitas kesehatan menghambat pengobatan anak yang sakit maupun terluka.

    Sumber: Laporan lengkap Komisi Penyelidikan Independen PBB, Juni 2026.

    Tindakan terhadap anak-anak Palestina yang dilakukan Israel menjadi salah satu unsur yang menunjukkan niat untuk menghancurkan rakyat Palestina. Anak-anak merupakan bagian dari keberlangsungan keluarga dan masyarakat. Karena itu, pembunuhan anak serta penghancuran kondisi yang menopang kehidupan mereka turut mengancam masa depan generasi berikutnya.

    Rahma Hidayani, Wakil Direktur Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI), menyoroti bahwa hilangnya nyawa, rasa aman, pendidikan, dan masa depan anak-anak mengancam keberlangsungan satu generasi. Menurutnya, dunia perlu lebih dari sekadar menyatakan keprihatinan.

    “Dunia harus melihat situasi ini sebagai krisis kemanusiaan yang membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan keprihatinan.”

    Rahma Hidayani, Wakil Direktur Al-Quds Volunteers Indonesia dalam opininya, “Apa Arti Kepemimpinan Global Jika Anak-Anak Tidak Bisa Dilindungi?”

    Bagaimana Genosida Israel Merenggut Masa Kecil Anak Palestina?

    Kekerasan tidak hanya mengancam nyawa anak, tetapi juga merusak masa depan mereka. Kehilangan keluarga, luka fisik, pengungsian berulang, dan terputusnya pendidikan dapat menghambat perkembangan anak bahkan setelah serangan berhenti.

    Trauma Psikologis

    Ketakutan dan kehilangan dapat mengganggu tidur, kestabilan emosi, serta hubungan anak dengan orang lain.

    Kehilangan Pengasuhan

    Anak yang kehilangan orang tua otomatis kehilangan tempat bersandar, perlindungan, dan dukungan emosional.

    Pendidikan Terputus

    Kerusakan sekolah dan layanan kesehatan menghambat pembelajaran, pemulihan, serta tumbuh kembang anak.

    Oleh sebab itu, anak Palestina membutuhkan lebih dari bantuan darurat. Mereka memerlukan layanan kesehatan, kesempatan kembali belajar, pendampingan psikososial, dan lingkungan aman agar dapat memulihkan diri serta tumbuh dengan layak.

    Apa yang Harus Dilakukan Dunia untuk Melindungi Anak Palestina?

    Menurut Rahma, komunitas internasional perlu memastikan perlindungan warga sipil, membuka akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan, serta mendorong investigasi independen atas dugaan pelanggaran hukum internasional dan menuntut akuntabilitas para pelaku. Selain itu, ia menekankan pentingnya memulihkan layanan pendidikan, kesehatan, dan dukungan psikososial bagi anak-anak yang terdampak.

    Selama akses bantuan terhambat dan perlindungan belum berjalan efektif, anak-anak akan terus menanggung akibat konflik yang tidak mereka pilih. Secara garis besar, hal-hal yang dapat dilakukan antara lain:

    1

    Hentikan Serangan terhadap Anak dan Warga Sipil

    Lindungi anak-anak, keluarga, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas perlindungan sesuai hukum internasional.

    2

    Buka Akses Bantuan Kemanusiaan

    Pastikan pangan, air bersih, obat-obatan, dan kebutuhan anak lainnya dapat masuk ke Gaza serta menjangkau keluarga tanpa hambatan.

    3

    Usut Pelanggaran dan Tegakkan Pertanggungjawaban

    Dukung penyelidikan independen, lindungi saksi dan korban, serta dorong proses hukum yang adil terhadap pihak yang terbukti bertanggung jawab.

    4

    Pulihkan Kehidupan Anak

    Bangun kembali layanan kesehatan dan pendidikan serta berikan dukungan psikososial jangka panjang bagi anak yang mengalami trauma dan kehilangan pengasuhan.

    Kepentingan politik dan militer tidak boleh menghapus hak anak untuk hidup.

    “Terlepas dari perbedaan pandangan politik, satu hal tidak boleh diperdebatkan: anak-anak harus dilindungi.
    Dunia membutuhkan kepemimpinan yang berani menempatkan kemanusiaan di atas kepentingan politik jangka pendek, serta memastikan tidak ada pelanggaran serius yang luput dari pertanggungjawaban.”

    Bagaimana Membantu Anak Palestina Mendapatkan Kesempatan Hidup?

    Anak Palestina membutuhkan pangan bergizi, air bersih, pendidikan, layanan kesehatan, dan dukungan psikososial untuk memulihkan kehidupan mereka. Bantuan kemanusiaan memenuhi kebutuhan mendesak sekaligus membantu menjaga kesempatan anak untuk kembali belajar dan tumbuh.

    Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI) secara konsisten terus mendukung warga Gaza melalui berbagai program, termasuk di antaranya Makan Bergizi Gaza (MBG), penyediaan air bersih melalui Air Kehidupan Gaza, serta dukungan pendidikan. Relawan dan ulama AVI hadir langsung di Gaza untuk mendekatkan bantuan kepada masyarakat terdampak.

    Bersama Bantu Gaza

    Bantu Penuhi Kebutuhan Warga Palestina

    Anda dapat turut memperkuat ikhtiar kami dengan berdonasi untuk membantu memenuhi kebutuhan warga Gaza. Salurkan donasi melalui rekening resmi Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI):

    Bank Syariah Indonesia (BSI)

    369 369 0004

    a.n. AVI Peduli Kemanusiaan

    Bank Mandiri

    127 00 7223347 9

    a.n. Yayasan Alquds Volunteers Indonesia

    Setelah berdonasi, konfirmasikan melalui WhatsApp 0811 820 196 untuk memperoleh informasi dan laporan penyaluran.

    FAQ Seputar Anak Palestina dan Genosida di Gaza

    1. Berapa jumlah anak Palestina yang tewas dan terluka menurut PBB?

    Komisi Penyelidikan Independen PBB mencatat sedikitnya 20.179 anak tewas dan 44.143 anak terluka pada periode 7 Oktober 2023 hingga 31 Maret 2026.

    2. Apa yang dimaksud dengan penargetan anak Palestina?

    Komisi PBB mendokumentasikan pembunuhan yang disengaja, penembakan menggunakan senapan runduk dan drone, kekerasan dalam penahanan, serta serangan yang merusak fasilitas penting bagi anak. Komisi menilai temuan tersebut sebagai bagian dari pola kekerasan yang lebih luas.

    3. Mengapa Komisi PBB mengaitkan penargetan anak dengan niat genosida?

    Penargetan anak merupakan salah satu unsur penting yang menunjukkan niat untuk menghancurkan kelompok Palestina di Gaza, seluruhnya atau sebagian. Kesimpulan ini berasal dari penyelidikan Komisi, bukan putusan pengadilan atas setiap insiden.

    4. Apa dampak konflik terhadap masa depan anak Palestina?

    Kehilangan keluarga, trauma, disabilitas, pengungsian, dan terputusnya pendidikan dapat menghambat kesehatan serta perkembangan anak. Karena itu, pemulihan membutuhkan layanan kesehatan, pendidikan, perlindungan, dan dukungan psikososial berkelanjutan.

    5. Bagaimana cara membantu anak Palestina melalui AVI?

    Masyarakat dapat mendukung program pangan, air bersih, dan pendidikan melalui donasi resmi Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI). Setelah berdonasi, konfirmasikan melalui WhatsApp 0811 820 196.

  • Bertahan Hidup Tanpa Ayah dan Ibu di Tengah Krisis Gaza

    Bertahan Hidup Tanpa Ayah dan Ibu di Tengah Krisis Gaza

    Di Palestina, ada banyak anak yang kehilangan ayah dan ibunya karena dampak genosida Israel, lalu harus menjalani hari-hari di tengah krisis Gaza dan serangan yang tiada henti. Kondisi ini membuat mereka lebih banyak merasakan ketakutan, apalagi tak ada lagi pelukan orang tua untuk membuatnya merasa aman.

    Bagi anak-anak di Gaza, kehilangan bukan hanya soal berpisah dengan orang tercinta. Mereka juga menghadapi ketidakpastian, kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan luka emosional yang dapat mengubah cara mereka melihat dunia, berinteraksi, bahkan mengendalikan perasaan.

    Krisis Gaza dalam angka

    60.000 anak

    Diperkirakan kehilangan salah satu atau kedua orang tua akibat genosida di Gaza. Orang tua mereka syahid karena serangan, bahkan sejak gencatan senjata.

    Sumber: UNICEF, laporan Oktober 2026.

    Baca laporan UNICEF

    Siapa yang Merawat Anak Tanpa Orang Tua di Tengah Krisis Gaza?

    Kakek-nenek, paman, bibi, atau kakak yang lebih dewasa, meski usianya baru belasan, mau tak mau harus mengambil alih pengasuhan. Sayangnya, tidak semua anak yang kehilangan orang tua memiliki kerabat yang masih hidup atau mampu merawat mereka. Ada yang terpaksa harus menghidupi diri sendiri, mencari cara untuk sekadar mendapatkan makanan yang dapat mengisi perut mereka hari itu.

    Gambaran nyata dari Gaza

    Dalam laporan UNICEF pada Oktober 2026, Jamal dan Hamza diceritakan mengumpulkan sampah untuk membantu menghidupi keluarga. Setelah kehilangan rumah dan saudara laki-laki mereka, keduanya tinggal bersama sembilan anggota keluarga lain di tenda yang rusak. Pengalaman mereka menunjukkan bagaimana kehilangan, pengungsian, dan kesulitan ekonomi dapat memaksa anak mengambil peran orang dewasa sebelum waktunya. Sumber: UNICEF.

    Asesmen UNICEF pada Desember 2025 hingga Januari 2026 menemukan bahwa 92% anak yang hidup tanpa pengasuhan orang tua tinggal bersama kerabat. Namun, kerabat yang menampung mereka juga harus berjuang di tengah krisis Gaza. Dengan bantuan yang kian terbatas, mereka memikul tanggung jawab baru sambil berusaha memenuhi kebutuhan seluruh keluarga. Tak jarang, orang dewasa memilih menahan lapar agar anak-anak tetap bisa makan.

    Kehilangan Orang Tua Mengubah Mental dan Perilaku Anak

    Kehilangan orang tua di tengah perang dapat mengguncang psikologis dan rasa aman seorang anak. Tak sedikit yang mengalami mimpi buruk, sulit tidur, mudah terkejut, kehilangan konsentrasi, atau terus mencemaskan keselamatan orang-orang yang masih mereka miliki.

    Sebagian anak menunjukkan kesedihannya dengan menangis atau menarik diri. Sebagian lainnya justru menjadi mudah marah dan kerap menunjukkan perilaku agresif. Perubahan tersebut dapat menjadi respons terhadap ketakutan, tekanan berkepanjangan, dan kesulitan mengungkapkan emosi yang belum mampu mereka pahami.

    Anak yang dahulu mencari ibunya ketika takut, kini harus menghadapi ketakutannya sendirian. Ketika tidak ada orang dewasa yang membantu menenangkan dan memahami perasaannya, kesedihan dapat muncul sebagai rasa marah. Akibatnya, hubungan dengan saudara, teman, dan pengasuh ikut terdampak. Anak juga bisa kesulitan belajar, bermain, dan mempercayai orang lain.

    Banyak anak mengalami trauma, kecemasan, depresi, hingga perasaan bahwa hidup mereka dapat berakhir kapan saja. Dukungan emosional dan psikososial sangat penting untuk membantu anak-anak kembali merasa aman, membangun harapan, serta memulihkan kepercayaan terhadap lingkungan di sekitarnya.

    Rahma Hidayani, Wakil Direktur Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI).

    Gagasan dari tulisan Rahma mengenai kesehatan mental anak Gaza. Baca tulisan aslinya.

    Rahma menegaskan pentingnya pendampingan psikososial. Anak membutuhkan orang dewasa yang sabar mendengarkan, lingkungan yang aman, serta rutinitas yang membantu mereka merasa lebih stabil. Dukungan yang konsisten dapat membantu anak-anak Gaza mengenali emosi dan belajar mengekspresikannya tanpa menyakiti diri sendiri maupun orang lain.

    Apa yang Dibutuhkan Anak-Anak Gaza?

    Keluarga yang menampung anak juga menghadapi kehilangan dan keterbatasan ekonomi. Mereka tidak selalu dapat mendampingi anak yang kehilangan orang tua, karena harus berfokus pada kebutuhan dasar. Melalui program Orang Tua Asuh, Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI) berupaya mendampingi anak yatim dan anak terdampak krisis secara berkelanjutan.

    Dukungan yang diberikan mencakup pangan, pendidikan, layanan kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari. AVI juga berupaya menghadirkan dukungan psikososial, santunan, serta kegiatan bersama yang memberi ruang bagi anak untuk merasa diperhatikan, didampingi, dan tidak menghadapi masa sulit sendirian. Relawan dan ulama AVI hadir langsung di Gaza untuk mendekatkan ikhtiar kemanusiaan dengan kebutuhan warga. Ketahui lebih lanjut program Orang Tua Asuh AVI di sini.

    Kita memang tidak dapat menggantikan orang tua yang telah tiada. Namun, kita bisa membantu memastikan anak-anak ini tetap mendapatkan perlindungan, perhatian, dan kesempatan untuk tumbuh tanpa harus menghadapi seluruh kesulitan sendirian.

    Dampingi Anak-Anak yang Terdampak Krisis Gaza Bersama AVI

    Salurkan donasi melalui rekening resmi Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI):

    BSI 369 369 0004
    a.n. AVI Peduli Kemanusiaan

    Mandiri 127 00 7223347 9
    a.n. Yayasan Alquds Volunteers Indonesia

    Konfirmasikan donasi melalui WhatsApp 0811 820 196 untuk konfirmasi dan informasi laporan penyaluran.

    FAQ Seputar Anak Yatim Piatu di Gaza

    Berapa banyak anak Gaza yang kehilangan orang tua?

    UNICEF memperkirakan sekitar 60.000 anak kehilangan salah satu atau kedua orang tua akibat perang, menurut laporan Oktober 2026.

    Mengapa anak yang kehilangan orang tua bisa menjadi agresif?

    Sebagian anak menunjukkan tekanan emosional melalui kemarahan atau perilaku agresif. Respons ini tidak terjadi pada semua anak dan perlu dipahami sesuai pengalaman serta kebutuhan masing-masing.

    Bagaimana cara membantu anak yatim Gaza?

    Dukungan dapat mencakup pangan, pendidikan, kesehatan, pengasuhan aman, dan pendampingan psikososial melalui program kemanusiaan yang tepercaya.

  • Kapan Palestina Merdeka? Membaca Peluang di Tengah Ketimpangan Kekuatan

    Kapan Palestina Merdeka? Membaca Peluang di Tengah Ketimpangan Kekuatan

    Sudah puluhan tahun rakyat Palestina memperjuangkan hak untuk hidup merdeka secara berdaulat di tanahnya sendiri. Namun, ketika kehancuran Gaza terus membayangi kehidupan warga dan pendudukan Israel masih menguasai sebagai besar wilayah, satu pertanyaan kembali muncul: kapan Palestina merdeka? Kapan mereka bisa menentukan nasib sendiri, membangun kembali rumah, dan menjalani kehidupan tanpa ancaman kehilangan, bom, dan serangan?

    Satu sisi, ketimpangan militer, pembatasan wilayah, dan kebuntuan politik membuat jalan menuju kemerdekaan tampak panjang. Di sisi lain, pengakuan diplomatik terhadap Palestina dan perubahan opini publik internasional menunjukkan bahwa dukungan global terus berkembang. Apakah perkembangan tersebut cukup untuk membuka jalan menuju kemerdekaan?

    Dukungan Dunia Menguat, tetapi Apakah Itu Cukup?


    Pada 12 September 2025, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengadopsi resolusi yang mendukung Deklarasi New York tentang penyelesaian damai persoalan Palestina dan penerapan solusi dua negara. Sebanyak 142 negara mendukung resolusi tersebut, 10 negara menolak, dan 12 negara abstain. Catatan resmi PBB menunjukkan besarnya dukungan diplomatik terhadap upaya mewujudkan negara Palestina yang merdeka.

    Dukungan tersebut memberi tekanan diplomatik dan memperkuat posisi kemerdekaan Palestina dalam agenda internasional. Namun, dukungan dalam forum PBB tidak otomatis mengakhiri pendudukan atau memberikan Palestina kendali penuh atas wilayahnya. Negara-negara yang mendukung kemerdekaan perlu menerjemahkan pernyataan mereka menjadi kebijakan dan tindakan nyata.

    Deni Syahid, Direktur Utama Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI), melihat perkembangan geopolitik dan gerakan kemanusiaan global sebagai alasan untuk terus mencermati peluang kemerdekaan Palestina.

    “Kita sebenarnya sedang menyaksikan titik balik sejarah. Bukan karena situasi di lapangan sudah membaik—jelas belum—melainkan karena ada pergerakan geopolitik dan kemanusiaan global yang semakin signifikan.”

    Deni Syahid, Direktur Utama Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI), dalam opininya yang berjudul, “Mengapa Saya Masih Percaya Palestina Akan Merdeka”.

    Deni menyoroti perbedaan penting antara perubahan sikap dunia dan perubahan kondisi di Palestina. Perhatian internasional dapat membuka peluang politik, tetapi rakyat Palestina baru merasakan dampaknya ketika negara-negara mengambil langkah yang mampu mengubah keadaan di lapangan.

    Perubahan Opini Publik Bisa Menekan Kebijakan Politik


    Selain diplomasi antarnegara, perubahan opini masyarakat juga ikut membentuk perdebatan tentang Palestina. Survei Pew Research Center yang terbit pada 7 April 2026 menemukan bahwa 60% orang dewasa di Amerika Serikat memiliki pandangan negatif terhadap Israel. Angka ini naik dari 53% pada 2025. Survei yang sama mencatat bahwa 59% responden memiliki sedikit atau tidak memiliki kepercayaan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam urusan dunia.

    Perubahan ini penting untuk dicermati, terutama karena Amerika Serikat memiliki pengaruh besar dalam diplomasi terkait Israel dan Palestina. Ketika semakin banyak warga mempertanyakan kebijakan pemerintah Israel, para pemimpin politik juga menghadapi tekanan untuk menjelaskan sikap dan keputusan mereka.

    Yang penting diketahui, perubahan opini publik tidak serta-merta mengubah kebijakan luar negeri. Tekanan masyarakat perlu berlanjut dan mendorong keputusan konkret, misalnya melalui langkah diplomatik yang konsisten serta dukungan terhadap upaya mengakhiri pendudukan.

    Mengapa Jalan Menuju Kemerdekaan Masih Panjang?


    Di tengah dukungan internasional, rakyat Palestina masih menghadapi hambatan mendasar. Pendudukan Israel, perluasan permukiman di wilayah Palestina yang diduduki, pengambilalihan tanah, dan pengusiran warga mempersempit ruang bagi terbentuknya negara Palestina yang berdaulat.

    Pada 22 September 2026, Sekretaris Jenderal PBB memperingatkan bahwa berbagai kebijakan di wilayah Palestina yang diduduki terus mengikis kondisi yang diperlukan untuk membangun negara Palestina yang merdeka, berkesinambungan, dan berdaulat. Ia juga menyoroti percepatan perluasan permukiman Israel di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Pernyataan Sekretaris Jenderal PBB menegaskan bahwa dukungan terhadap solusi dua negara perlu diwujudkan melalui kebijakan dan tindakan nyata.

    Fakta tersebut memperlihatkan bahwa pengakuan diplomatik saja tidak cukup. Palestina membutuhkan ruang wilayah yang memungkinkan rakyatnya hidup dan bergerak, pemerintahan yang dapat menjalankan fungsi negara, serta hak untuk menentukan masa depannya sendiri.

    Karena itu, pembahasan tentang kemerdekaan Palestina tidak bisa hanya berfokus pada berapa banyak negara yang memberikan pengakuan. Kita juga perlu melihat apakah dukungan tersebut mampu menghentikan tindakan yang menghambat kedaulatan Palestina dan mendorong proses politik yang benar-benar menghasilkan kemerdekaan.

    Apa yang Dapat Membuka Jalan Menuju Palestina Merdeka?


    Tidak ada satu peristiwa yang dapat menjamin kemerdekaan Palestina. Namun, beberapa langkah dapat memperkuat upaya mewujudkannya.

    1. Mengubah dukungan diplomatik menjadi tindakan

    Negara-negara pendukung perlu menjalankan kebijakan yang konsisten untuk mendorong penghentian pendudukan, mencegah aneksasi, dan menghormati hak rakyat Palestina.

    2. Menjaga peluang terbentuknya negara yang berdaulat

    Upaya internasional perlu melindungi hak rakyat Palestina dan mencegah perluasan permukiman serta pengambilalihan wilayah yang semakin menyulitkan pembentukan negara Palestina.

    3. Mendorong proses politik yang nyata

    Solusi dua negara membutuhkan langkah konkret agar Palestina dapat menjalankan pemerintahan, mengelola wilayahnya, dan menentukan masa depannya secara mandiri.

    Deni Syahid juga menekankan peran tekanan masyarakat dalam mendorong perubahan. Dalam opininya, ia menjelaskan:

    “Sejarah mencatat bahwa tekanan moral dan gerakan masyarakat (public pressure) kerap menjadi katalisator utama dalam mendorong perubahan politik yang besar.”

    Gagasan ini mengingatkan kita bahwa kepedulian publik dapat berperan dalam membentuk tekanan politik. Meski begitu, masyarakat internasional perlu menjaga perhatian tersebut secara konsisten dan mengarahkannya pada tindakan yang menghormati hak rakyat Palestina.

    Jadi, Kapan Palestina Merdeka?


    Sampai sekarang, tidak ada pihak yang dapat memastikan kapan Palestina merdeka. Dukungan diplomatik terus berkembang, tetapi pendudukan dan persoalan kedaulatan masih menjadi hambatan besar. Waktu kemerdekaan bergantung pada perubahan politik dan kondisi nyata yang memungkinkan rakyat Palestina menjalankan hak menentukan nasib sendiri.

    Ketidakpastian itu tidak berarti perjuangan Palestina telah berakhir. Deni mengingatkan bahwa kita perlu melihat rakyat Palestina lebih dari sekadar angka korban atau gambaran kehancuran. Mereka adalah bangsa yang memiliki hak untuk menentukan masa depannya sendiri.

    Bagi Al-Quds Volunteers Indonesia, kepedulian terhadap Palestina juga berarti hadir mendampingi warga yang menghadapi krisis kemanusiaan. Relawan dan ulama AVI hadir langsung di Gaza untuk menjalankan ikhtiar kemanusiaan bersama masyarakat setempat. Kehadiran ini menjadi bagian dari upaya membantu memenuhi kebutuhan dasar warga, sambil terus menjaga perhatian terhadap hak dan masa depan mereka.

    Kita mungkin belum bisa menentukan kapan kemerdekaan Palestina akan terwujud. Namun, kita dapat terus mengikuti perkembangan dengan kritis, mendorong tindakan yang menghormati hak rakyat Palestina, dan mendukung bantuan kemanusiaan yang mereka butuhkan hari ini.

    Dukung Terus Warga Palestina

    Mari bantu memenuhi kebutuhan saudara-saudara kita di Palestina melalui donasi resmi Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI).

    BANK SYARIAH INDONESIA (BSI)

    369 369 0004

    a.n. AVI Peduli Kemanusiaan

    BANK MANDIRI

    127 00 7223347 9

    a.n. Yayasan Alquds Volunteers Indonesia

    Setelah berdonasi, konfirmasikan melalui WhatsApp 0811 820 196 untuk memperoleh laporan penyaluran bantuan.

    Konfirmasi Donasi via WhatsApp

    FAQ Seputar Kemerdekaan Palestina


    1. Kapan Palestina merdeka?

    Belum ada tanggal pasti untuk kemerdekaan Palestina. Terwujudnya kemerdekaan bergantung pada perkembangan politik, berakhirnya pendudukan, dan kemampuan rakyat Palestina menjalankan kedaulatan atas wilayahnya.

    2. Apakah Palestina sudah diakui sebagai negara?

    Banyak negara telah mengakui Palestina sebagai negara. Palestina juga memiliki status negara pengamat nonanggota di PBB. Namun, pengakuan diplomatik tidak otomatis memberikan kendali penuh atas wilayah atau mengakhiri pendudukan.

    3. Apa hambatan utama kemerdekaan Palestina?

    Hambatan utamanya mencakup pendudukan Israel, perluasan permukiman, pengambilalihan wilayah, pembatasan terhadap warga Palestina, dan belum tercapainya penyelesaian politik yang menjamin kedaulatan Palestina.

    4. Bagaimana masyarakat Indonesia dapat mendukung Palestina?

    Masyarakat dapat memperluas pemahaman tentang Palestina, mendukung advokasi damai, menyuarakan perlindungan hak rakyat Palestina, dan menyalurkan bantuan kemanusiaan melalui lembaga yang tepercaya dan transparan.

  • Semangka, Simbol Palestina yang Menyimpan Sejarah Perlawanan

    Semangka, Simbol Palestina yang Menyimpan Sejarah Perlawanan

    Di media sosial, gambar semangka 🍉 sering menyertai unggahan tentang Palestina. Orang-orang membagikannya sebagai emoji, menggambarnya di poster, atau menggunakannya dalam kampanye solidaritas. Namun, semangka bukan sekadar buah yang kebetulan memiliki warna serupa dengan bendera Palestina.

    Untuk memahami mengapa semangka menjadi simbol Palestina, kita perlu mengulas kembali sejarah. Dalam perkembangannya, seniman dan aktivis berperan besar menghidupkan simbol semangka pada berbagai momen penting, hingga gambar buah ini dikenal luas sebagai lambang solidaritas terhadap Palestina.

    Mengapa Semangka Menjadi Simbol Palestina?

     

    Alasan pertama terletak pada warna. Daging semangka berwarna merah, bijinya hitam, sementara bagian kulitnya menampilkan warna putih dan hijau. Keempat warna tersebut juga membentuk bendera Palestina. Karena itu, orang dapat mengenali hubungan antara semangka dan identitas Palestina hanya dengan melihat potongan buah ini.

    Akan tetapi, kemiripan warna bukan satu-satunya alasan semangka memiliki makna politik. Simbol ini juga berkaitan dengan masa ketika masyarakat Palestina menghadapi pembatasan dalam menampilkan bendera nasional mereka. Saat pengibaran bendera berisiko menimbulkan masalah, gambar semangka menawarkan cara alternatif untuk menyampaikan identitas yang sama.

    Dari warna menjadi pernyataan identitas

    Semangka mengingatkan orang pada bendera Palestina. Di samping itu, sejarah penggunaannya membuat simbol ini memiliki makna yang lebih dalam. Ini adalah cara kreatif untuk mempertahankan identitas ketika masyarakat menghadapi pembatasan dalam mengekspresikannya.

    Sejarah Semangka yang Berkaitan dengan Pelarangan Bendera Palestina

     

    Sejarah semangka sebagai simbol Palestina berkaitan dengan peristiwa setelah Perang Enam Hari pada 1967. Dalam perang tersebut, Israel merebut kendali atas Tepi Barat dan Jalur Gaza, serta menguasai Yerusalem Timur. Menurut laporan TIME, pada periode itu otoritas Israel melarang masyarakat mengibarkan bendera Palestina secara terbuka di Gaza dan Tepi Barat.

    Untuk mengakali larangan tersebut, semangka menjadi alternatif yang masuk akal. Ketika orang menampilkan potongan semangka, mereka menghadirkan kombinasi warna yang mengingatkan pada bendera Palestina tanpa harus menggambarkan bendera itu secara langsung.

    Seniman Sliman Mansour menceritakan betapa ketatnya pembatasan terhadap ekspresi visual Palestina. Kepada media The National, ia berbagi bahwa bahwa pada 1980, otoritas Israel menutup sebuah pameran di Galeri 79, Ramallah, yang menampilkan karya Mansour bersama seniman Nabil Anani dan Issam Badrl.

    Pada saat itu, petugas tidak hanya mempermasalahkan lukisan bendera Palestina, tetapi juga penggunaan keempat warna bendera. Ketika para seniman mempertimbangkan bentuk lain dengan warna yang sama, petugas tetap bersikeras bahwa karya mereka akan disita.

    Kisah Mansour pada 1980 menjadi bukti mengenai pembatasan ekspresi seni hanya karena ada keterkaitan dengan politik. Namun, pengalamannya tidak bisa dijadikan acuan bahwa satu kejadian tertentu merupakan satu-satunya asal-usul penggunaan semangka.

    Situasi kemudian berubah pada 1993. Melalui proses Perjanjian Oslo, Israel mengakui Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), dan bendera Palestina diterima sebagai lambang Otoritas Palestina. Meski demikian, perubahan tersebut tidak menghapus konflik maupun persoalan identitas nasional Palestina. Semangka pun tetap memiliki tempat dalam ingatan dan ekspresi solidaritas masyarakat.

    Bagaimana Seniman Palestina Mengembangkan Simbol Semangka?

     

    Selain tumbuh dari pembatasan bendera, semangka memperoleh jangkauan baru melalui karya seni. Salah satu tokoh penting dalam perkembangannya adalah Khaled Hourani, seniman Palestina yang mengolah semangka menjadi representasi visual identitas nasional.

    Pada 2007, Hourani menciptakan karya berjudul The Story of the Watermelon untuk buku proyek Subjective Atlas of Palestine. Kemudian, pada 2013, ia memilih salah satu cetakan dari karya tersebut dan memberinya judul The Colours of the Palestinian Flag. Karya ini membantu membawa simbol semangka kepada khalayak yang lebih luas, termasuk di luar Palestina.

    Langkah Hourani memperlihatkan bagaimana seniman dapat mengembangkan simbol yang sudah memiliki konteks politik menjadi karya yang berdiri sendiri. Semangka tidak hanya mengingatkan orang pada bendera, tetapi juga mengajak mereka memikirkan hubungan antara seni, kebebasan berekspresi, dan identitas nasional.

    1967

    Pembatasan pengibaran bendera Palestina di Gaza dan Tepi Barat menciptakan ide baru bagi penggunaan simbol alternatif.

    1980

    Kisah Sliman Mansour mengenai penutupan pameran memperlihatkan pembatasan terhadap penggunaan simbol dan warna Palestina dalam seni.

    2007–2013

    Khaled Hourani mengembangkan karya semangka dan kemudian menampilkan salah satu cetakannya dengan judul yang merujuk langsung pada warna bendera Palestina.

    Jadi, perkembangan simbol ini tidak berhenti pada upaya mengganti bendera dengan gambar buah. Para seniman juga membantu merekam pengalaman politik Palestina melalui karya yang dapat dipahami dan dibagikan oleh masyarakat luas.

    Semangka Menjadi Simbol Palestina yang Terus Digunakan

     

    Simbol semangka kembali menarik perhatian publik pada 2021, ketika ancaman pengusiran terhadap keluarga Palestina di kawasan Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur, memicu gelombang solidaritas. Pada saat itu, gambar semangka kembali muncul sebagai cara untuk mengekspresikan dukungan terhadap rakyat Palestina.

    Dua tahun kemudian, simbol ini kembali menonjol dalam perdebatan mengenai penggunaan bendera Palestina di ruang publik Israel. Pada Januari 2023, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir memberi kewenangan kepada polisi untuk menyita bendera Palestina. Selanjutnya, muncul pula pembahasan rancangan undang-undang yang akan membatasi penampilan bendera di lembaga-lembaga yang didanai negara.

    Menanggapi situasi tersebut, organisasi komunitas Arab-Israel Zazim meluncurkan kampanye pada Juni 2023. Mereka memasang gambar semangka pada 16 taksi yang beroperasi di Tel Aviv, disertai pesan berbahasa Inggris, “This is not a Palestinian flag” atau “Ini bukan bendera Palestina”.

    Pesan itu mengandung sindiran yang jelas. Kampanye tersebut menggunakan gambar buah yang secara visual mengingatkan orang pada bendera Palestina untuk memprotes pembatasan simbol tersebut. Dengan kata lain, semangka menjadi alat untuk mempertanyakan batas kebebasan berekspresi melalui cara yang mudah dipahami publik.

    Setelah perang di Gaza meningkat pada Oktober 2023, penggunaan semangka semakin terlihat dalam unggahan media sosial, poster, ilustrasi, dan kampanye solidaritas internasional. Menariknya, setiap orang memiliki alasan sendiri saat menggunakan gambar semangka.

    Sebagian menyoroti sejarah pembatasan bendera, sebagian ingin menunjukkan dukungan kepada Palestina, sementara yang lain memakai simbol tersebut sebagai bentuk ekspresi di media sosial. Beragam penggunaan itu memperluas jangkauannya tanpa menghilangkan kaitannya dengan identitas Palestina.

    Dari Simbol Semangka Menuju Solidaritas Nyata untuk Palestina

     

    Semangka menunjukkan bahwa mempertahankan identitas tidak selalu membutuhkan simbol yang rumit. Sebuah gambar sederhana dapat membawa ingatan sejarah, menyampaikan sikap, dan menghubungkan orang-orang yang tinggal berjauhan.

    Namun, menggunakan simbol saja belum cukup untuk membantu Palestina hari ini. Di Gaza, warga sipil masih membutuhkan dukungan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan dasar, mulai dari makanan,air bersih, layanan kesehatan, hingga tempat berlindung.

    Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI) berikhtiar menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina melalui berbagai program, seperti pangan bergizi, air bersih, bantuan musim dingin, hingga bantuan darurat sesuai kebutuhan.

    Relawan dan ulama AVI juga hadir langsung di Gaza untuk mendukung penyaluran bantuan, bukan hanya menggalang kepedulian dari Indonesia.

    Untuk mengetahui program yang tersedia dan bentuk dukungan yang dapat diberikan, kunjungi laman program bantuan Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI).

    Lanjutkan Solidaritas dengan Bantuan Nyata

    Mari bantu memenuhi kebutuhan saudara-saudara kita di Gaza melalui donasi resmi Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI).

    BANK SYARIAH INDONESIA (BSI)

    369 369 0004

    a.n. AVI Peduli Kemanusiaan

    BANK MANDIRI

    127 00 7223347 9

    a.n. Yayasan Alquds Volunteers Indonesia

    Setelah berdonasi, konfirmasikan melalui WhatsApp 0811 820 196 untuk memperoleh laporan penyaluran bantuan.

    Konfirmasi Donasi via WhatsApp

    FAQ Seputar Semangka sebagai Simbol Palestina

     

    1. Mengapa semangka menjadi simbol Palestina?

    Semangka memiliki warna merah, hitam, putih, dan hijau yang menyerupai warna bendera Palestina. Selain kemiripan tersebut, sejarah pembatasan bendera dan penggunaan simbol alternatif membuat semangka memiliki makna politik dan identitas.

    2. Sejak kapan semangka menjadi simbol Palestina?

    Penggunaan semangka sebagai simbol Palestina dikaitkan dengan periode setelah 1967, ketika pengibaran bendera Palestina menghadapi larangan di Gaza dan Tepi Barat. Seniman kemudian turut mengembangkan simbol ini melalui karya seni, termasuk karya Khaled Hourani pada 2007.

    3. Siapa Khaled Hourani?

    Khaled Hourani adalah seniman Palestina yang membuat The Story of the Watermelon pada 2007 untuk proyek Subjective Atlas of Palestine. Pada 2013, ia memilih salah satu cetakannya dan memberinya judul The Colours of the Palestinian Flag.

    4. Mengapa semangka kembali populer pada 2023?

    Pada 2023, perdebatan mengenai pembatasan bendera Palestina di ruang publik Israel kembali mendorong penggunaan semangka sebagai simbol alternatif. Setelah perang di Gaza meningkat pada Oktober, masyarakat di berbagai negara semakin sering membagikannya sebagai bentuk solidaritas.

    5. Apa hubungan semangka dengan kebebasan berekspresi?

    Sejarahnya menunjukkan bahwa masyarakat dan seniman menggunakan simbol alternatif untuk menyampaikan identitas ketika simbol nasional menghadapi pembatasan. Kampanye semangka pada 2023 juga memakai gambar buah ini untuk memprotes pembatasan terhadap bendera Palestina.

  • Bagaimana Genosida Memengaruhi Kesehatan Mental Anak Gaza?

    Bagaimana Genosida Memengaruhi Kesehatan Mental Anak Gaza?

    Bayangkan seorang anak yang seharusnya menghabiskan hari dengan bermain dan belajar, justru harus berlari ketakutan ketika suara bom terdengar. Ia mungkin kehilangan rumah, terpisah dari orang-orang tersayang, hingga tak lagi tahu seperti apa rasanya tidur dengan tenang. Bagi banyak anak Gaza, ketakutan seperti ini bukan sekadar bayangan buruk, melainkan bagian dari kehidupan yang mereka hadapi selama genosida.

    Dampaknya tidak berhenti pada luka fisik. Kekerasan, kehilangan, dan pengungsian berulang juga mengancam kesehatan mental anak, mulai dari gangguan tidur hingga kesulitan mengendalikan emosi. Karena itu, selain makanan dan tempat berlindung, anak-anak Palestina membutuhkan pendampingan agar dapat kembali merasa aman dan menjalani masa kecil mereka.

    Apa yang Dihadapi Anak Gaza Selama Genosida?

    Pemboman intensif merenggut banyak hal yang selama ini menjadi sumber rasa aman bagi anak. Rumah dan sekolah rusak, keluarga terpaksa berpindah tempat, sementara suara ledakan dan serangan dapat muncul sewaktu-waktu. Di tempat pengungsian, sebagian anak juga harus menghadapi keterbatasan air bersih, makanan, privasi, dan ruang bermain.

    Laporan Human Rights Research Center menjelaskan bahwa paparan kekerasan berkepanjangan dapat mengganggu perkembangan emosi, kemampuan belajar, ingatan, dan hubungan sosial anak. Ketika mereka terus hidup dalam ketidakpastian, tubuh dan pikiran dapat kesulitan membedakan kapan keadaan benar-benar aman.

    Kondisi ini semakin berat ketika anak kehilangan orang terdekat atau terpisah dari lingkungan yang mereka kenal. Mereka bukan hanya berusaha bertahan hidup hari ini, tetapi juga menghadapi kehilangan yang belum tentu mampu mereka pahami sepenuhnya.

    Bagaimana Genosida Memengaruhi Kesehatan Mental Anak Gaza?

    Tekanan psikologis tidak selalu terlihat melalui tangisan. Sebagian anak mungkin menjadi lebih mudah marah, sulit tidur, sering mengompol, atau memilih diam dan menjauh dari orang lain. Ada pula yang kesulitan berkonsentrasi ketika belajar atau kehilangan minat terhadap permainan yang sebelumnya mereka sukai.

    Human Rights Research Center menunjukkan betapa mengkhawatirkannya kesehatan mental anak-anak di Gaza. Penelitian menunjukkan hampir setengahnya memiliki kecenderungan bunuh diri, karena ingin mati akibat penderitaan yang mereka alami.

    Dampak Genosida terhadap Mental Anak Gaza

    Menderita gangguan stres pasca-trauma (PTSD)54%
    Depresi41%
    Kecemasan34%
    Merasa kematian mereka sudah dekat96%

    Sumber: Human Rights Research Center, Beyond the Bombing: The Consequences of Conflict on the Mental Health of Gazan Children, May 20, 2026. Data dari berbagai studi.

    Di balik angka-angka tersebut, ada anak yang mungkin terbangun berkali-kali pada malam hari karena ketakutan, ada juga anak yang kehilangan minat bermain dan lebih sering terdiam. Perubahan seperti ini bisa jadi menandakan anak sedang berusaha menghadapi pengalaman yang terlalu berat untuk usianya.

    Stres dan trauma berkepanjangan juga berdampak sangat buruk pada perkembangan otak mereka. Lambat laun, mereka menjadi sulit mengatur emosi, daya ingat merendah, hingga lambat dalam memproses sesuatu karena jalur di otak yang bertanggung jawab atas berbagai jenis perkembangan berubah.

    Mengapa Anak Gaza Membutuhkan Dukungan Psikososial?

    Trauma semakin sulit dihadapi ketika sumber tekanan masih berlangsung dan kehidupan belum kembali stabil. Anak-anak membutuhkan orang dewasa yang mendengarkan, lingkungan yang aman, kesempatan bermain, serta rutinitas yang membantu mereka merasa memiliki kendali atas kesehariannya.

    Karena itu, pemulihan anak Gaza tidak cukup hanya dengan menghentikan tangisan sesaat. Mereka membutuhkan pendampingan yang sesuai dengan usia dan kondisi masing-masing, mulai dari kegiatan bermain yang terarah hingga bantuan tenaga profesional ketika diperlukan.

    Wakil Direktur Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI), Rahma Hidayani, memandang bahwa kebutuhan anak-anak Gaza tidak bisa dilepaskan dari kondisi yang mereka alami sehari-hari. Selain memenuhi kebutuhan fisik, upaya kemanusiaan juga diharapkan bisa memberi perhatian pada rasa aman dan kondisi emosional anak.

    “Dukungan emosional dan psikososial sangat penting untuk membantu anak-anak kembali merasa aman, membangun harapan, serta memulihkan kepercayaan terhadap lingkungan di sekitarnya. Tanpa itu, luka psikologis dapat bertahan jauh setelah suara bom berhenti terdengar.”

    Rahma Hidayani, Wakil Direktur Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI)

    Bagaimana AVI Mendampingi Anak-Anak Gaza?

    Perhatian terhadap kondisi psikologis anak menjadi salah satu bagian dari ikhtiar kemanusiaan Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI). AVI kerap menyelenggarakan kegiatan trauma healing bagi anak-anak Gaza, dengan menghadirkan kesempatan untuk bermain, berinteraksi, dan mengikuti aktivitas positif di tengah situasi yang sulit.

    Mungkin sebuah permainan tidak bisa menghapus suara ledakan yang pernah mereka dengar. Kegiatan singkat juga tidak serta-merta menghilangkan kehilangan yang mereka rasakan. Namun, kesempatan untuk tertawa bersama, merasa diperhatikan, dan berinteraksi dengan anak-anak lain dapat menjadi pengalaman positif dalam proses pemulihan mereka.

    Di tengah keadaan yang mencekam, anak-anak Gaza tetap berhak memiliki masa kecil, merasakan kehangatan, dan menumbuhkan harapan akan hari esok.

    Melalui akun Instagram @alquds_volunteer, AVI turut membagikan dokumentasi kegiatan kemanusiaan di Gaza. Potret tersebut memungkinkan masyarakat mengikuti ikhtiar para relawan dan ulama AVI di Gaza, sekaligus melihat bahwa bantuan untuk Palestina tidak hanya menyasar kebutuhan fisik, tetapi juga bagaimana menjaga harapan dan martabat manusia.

    Pemulihan psikologis membutuhkan waktu dan dukungan berkelanjutan. Karena itu, upaya trauma healing perlu berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan dasar dan perlindungan anak, agar mereka memiliki kesempatan untuk tumbuh dalam lingkungan yang lebih aman.

    Bantu Anak Gaza Memulihkan Luka

    Anak-anak Gaza tidak seharusnya menghadapi ketakutan dan kehilangan seorang diri. Kepedulian kita dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk mendukung kebutuhan mereka, termasuk pendampingan yang membantu anak menghadapi tekanan akibat perang.

    Salurkan donasi melalui rekening resmi Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI):

    BSI 369 369 0004 a.n. AVI Peduli Kemanusiaan

    Mandiri 127 00 7223347 9 a.n. Yayasan Alquds Volunteers Indonesia

    Setelah berdonasi, konfirmasikan melalui WhatsApp 0811 820 196 untuk konfirmasi dan memperoleh laporan penyaluran bantuan.

    FAQ Seputar Kesehatan Mental Anak Gaza

    1. Apa dampak perang terhadap kesehatan mental anak Gaza?

    Perang dapat memicu ketakutan, kecemasan, gangguan tidur, perubahan perilaku, kesulitan berkonsentrasi, dan penarikan diri dari lingkungan sosial. Dampaknya berbeda pada setiap anak.

    2. Apa saja tanda tekanan psikologis pada anak Gaza?

    Tandanya dapat berupa gangguan tidur, mengompol, perilaku agresif, menarik diri, atau kesulitan belajar.

    3. Apa itu trauma healing bagi anak Gaza?

    Trauma healing merupakan istilah umum untuk kegiatan pendampingan yang membantu anak menghadapi tekanan emosional melalui aktivitas positif, bermain, dan interaksi sosial sesuai kebutuhan mereka.

    4. Bagaimana AVI membantu anak-anak Gaza?

    Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI) mengupayakan bantuan kemanusiaan, termasuk kegiatan trauma healing bagi anak-anak Gaza. Relawan dan ulama AVI hadir langsung di Gaza untuk memahami kebutuhan masyarakat di lapangan.

    5. Bagaimana cara berdonasi melalui AVI?

    Salurkan donasi melalui rekening resmi BSI 369 369 0004 a.n. AVI Peduli Kemanusiaan atau Mandiri 127 00 7223347 9 a.n. Yayasan Alquds Volunteers Indonesia. Konfirmasikan donasi melalui WhatsApp 0811 820 196 untuk memperoleh laporan penyaluran.

  • Apakah Kiamat Semakin Dekat jika Palestina Merdeka?

    Apakah Kiamat Semakin Dekat jika Palestina Merdeka?

    Palestina merdeka bukan hanya menjadi harapan rakyat Palestina, tetapi juga doa jutaan orang yang mendambakan berakhirnya genosida dan penjajahan Israel. Namun, di tengah besarnya harapan tersebut, muncul pertanyaan yang kerap diperbincangkan umat Islam: benarkah kemerdekaan Palestina berkaitan dengan semakin dekatnya Hari Kiamat?

    Sebagian orang menghubungkan pembebasan Baitul Maqdis, wilayah bersejarah di Palestina, dengan sebuah hadis tentang tanda-tanda akhir zaman. Untuk memahaminya secara utuh, kita perlu menelaah isi hadis tersebut, kualitas riwayatnya, serta penjelasan para ulama. Dengan begitu, kita tidak terburu-buru menyimpulkan perkara akidah hanya berdasarkan informasi yang beredar.

    Mengapa Palestina Merdeka Dikaitkan dengan Kiamat?

    Anggapan ini sering dikaitkan dengan hadis riwayat Abu Dawud tentang kekhalifahan di Baitul Maqdis. Riwayat tersebut menghubungkan kekhalifahan di Tanah Suci dengan sejumlah peristiwa besar menjelang akhir zaman.

    يَا ابْنَ حَوَالَةَ، إِذَا رَأَيْتَ الْخِلَافَةَ قَدْ نَزَلَتْ أَرْضَ الْمُقَدَّسَةِ فَقَدْ دَنَتِ الزَّلَازِلُ وَالْبَلَابِلُ وَالْأُمُورُ الْعِظَامُ، وَالسَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنَ النَّاسِ مِنْ يَدِي هَذِهِ مِنْ رَأْسِكَ

    Artinya: “‘Wahai Ibn Hawala, ketika kamu melihat khilafah telah turun ke Baitul Maqdis (Yerusalem), maka saat itu akan mendekat gempa bumi, bencana besar, dan masalah besar. Pada hari itu, saat Kiamat akan lebih dekat bagi manusia daripada jarak ini antara tanganku dan kepalamu.’ Abu Dawud berkata: ‘Abdullah bin Hawala adalah dari Homs.’” (HR. Abu Dawud).”

    Sumber: Abu Dawud Sulaiman bin Al-Ash’ath Al-Azdi As-Sijistani, Sunan Abu Dawud, juz 4, Syuaib Al-Arnaout (ed), Dar Al-Risalah Al-Alamiyah, tahun 1430/2009, hlm. 188-189.

    Namun, kita perlu membedakan dua hal. Kekhalifahan di Baitul Maqdis tidak sama dengan kemerdekaan Palestina sebagai negara modern. Selain itu, kita juga perlu memeriksa kualitas hadis sebelum menjadikannya landasan keyakinan.

    Bagaimana kualitas hadis tersebut?

    Riwayat tersebut dinilai lemah oleh ahli hadis Syuaib Al-Arnaout. Penilaian itu berkaitan dengan persoalan pada sejumlah perawi dalam sanadnya. Karena itu, riwayat tersebut tidak tepat dijadikan landasan yang pasti untuk menyimpulkan bahwa kemerdekaan Palestina menandakan Kiamat semakin dekat.

    Dengan demikian, anggapan bahwa Palestina merdeka pasti membuat kiamat semakin dekat tidak memiliki landasan yang cukup kuat. Kesimpulan ini bukan berarti kita menolak pembahasan tentang tanda-tanda kiamat, melainkan mengingatkan pentingnya memeriksa dalil sebelum menarik kesimpulan.

    Apa Kata Al-Qur’an tentang Waktu Kiamat?

    Al-Qur’an menegaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui waktu terjadinya kiamat. Dalam QS. Al-A’raf ayat 187, Allah menjelaskan bahwa pengetahuan tentang hari kiamat berada di sisi-Nya dan peristiwa itu akan datang secara tiba-tiba.

    QS. Al-A’raf: 187

    “Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia.”

    Oleh sebab itu, kita tidak perlu menetapkan hubungan pasti antara kemerdekaan Palestina dan datangnya kiamat. Sebaliknya, kemerdekaan Palestina perlu dipahami sebagai harapan bagi sebuah bangsa untuk memperoleh kebebasan, keadilan, dan hak menentukan masa depannya sendiri.

    Palestina Merdeka Bukan Sekadar Perbincangan Akhir Zaman

    Rahma Hidayani, Wakil Direktur Alquds Volunteers Indonesia (AVI), mengajak umat Islam menyikapi isu Palestina dengan iman yang matang dan akal yang jernih. Menurutnya, pembahasan akhir zaman seharusnya tidak membuat umat hanya sibuk menebak masa depan, sementara penderitaan rakyat Palestina berlangsung di depan mata.

    Secara historis, Baitul Maqdis pernah berada di bawah kekuasaan kaum Muslimin pada masa Umar bin Khattab. Berabad-abad kemudian, Salahuddin Al-Ayyubi juga berhasil merebut kembali Yerusalem dari Tentara Salib. Sejarah ini menjadi pengingat bahwa pembebasan Baitul Maqdis pernah terjadi pada masa lalu.

    “Jika setiap pembebasan Palestina otomatis menjadi penanda dekatnya kiamat, maka mengapa kiamat tidak terjadi pada masa-masa tersebut?”

    Rahma Hidayani, Wakil Direktur Alquds Volunteers Indonesia (AVI)

    Lebih dari sekadar perdebatan tentang akhir zaman, menurutnya, Palestina menghadirkan ujian kemanusiaan yang nyata. Warga sipil, termasuk anak-anak, membutuhkan perlindungan dan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

    Bagi Rahma, pembahasan tentang akhir zaman seharusnya tidak melahirkan rasa takut yang membuat kita pasif, tetapi kesadaran moral yang mendorong kita bertindak: memperjuangkan keadilan, menyuarakan kemanusiaan, membantu yang tertindas, dan tidak menormalisasi penjajahan.

    “Palestina bukan sekadar bahan diskusi eskatologi; Palestina adalah ujian kemanusiaan.”

    Rahma Hidayani, Wakil Direktur Alquds Volunteers Indonesia (AVI)

    Oleh sebab itu, kepedulian terhadap Palestina perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti menyuarakan keadilan dan membantu mereka yang terdampak penjajahan serta krisis kemanusiaan. Yang akan ditanya bukan apakah kita berhasil menebak waktu kiamat, tetapi apa yang telah kita lakukan ketika melihat kezaliman di depan mata.

    Apa yang Bisa Kita Lakukan Sambil Menantikan Palestina Merdeka?

    Kita tidak mengetahui kapan Palestina akan merdeka atau kapan kiamat akan tiba. Namun, kita bisa menentukan sikap hari ini dengan cara membantu rakyat Palestina sesuai kemampuan.

    Ukuran keimanan bukan seberapa jauh kita mampu menafsirkan tanda-tanda akhir zaman, melainkan seberapa besar keberanian kita berpihak pada keadilan saat menyaksikan ketidakadilan. Meskipun kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, tetapi kita bisa memilih untuk membantu mereka yang membutuhkan hari ini.

    Mari Bantu Warga Gaza, Palestina

    Alquds Volunteers Indonesia berupaya mewujudkan kepedulian terhadap warga Palestina yang masih berjuang untuk merdeka secara berdaulat. Relawan dan ulama AVI hadir langsung di Gaza untuk mendampingi ikhtiar kemanusiaan.

    Mari bantu saudara-saudara kita di Palestina. Salurkan donasi melalui rekening resmi AVI:

    BSI 369 369 0004 a.n. AVI Peduli Kemanusiaan

    Mandiri 127 00 7223347 9 a.n. Yayasan Alquds Volunteers Indonesia

    Setelah berdonasi, konfirmasikan melalui WhatsApp 0811 820 196 untuk membantu proses pencatatan dan memperoleh informasi laporan penyaluran.

    FAQ Seputar Palestina Merdeka dan Kiamat

    1. Benarkah Palestina merdeka menjadi tanda kiamat semakin dekat?

    Tidak ada dasar yang kuat untuk memastikan bahwa kemerdekaan Palestina secara otomatis menandai datangnya kiamat. Hanya Allah yang mengetahui waktu terjadinya kiamat.

    2. Mengapa kemerdekaan Palestina dikaitkan dengan akhir zaman?

    Anggapan ini sering dikaitkan dengan hadis tentang kekhalifahan di Baitul Maqdis. Namun, riwayat tersebut tidak secara eksplisit menyebut kemerdekaan Palestina sebagai negara modern sebagai tanda kiamat.

    3. Siapa yang mengetahui kapan kiamat terjadi?

    QS. Al-A’raf ayat 187 menegaskan bahwa pengetahuan tentang waktu kiamat hanya berada di sisi Allah.

    4. Bagaimana cara membantu rakyat Palestina?

    Kita dapat menyebarkan informasi yang terverifikasi, menyuarakan keadilan, dan memberikan bantuan melalui lembaga kemanusiaan tepercaya.

  • Beban Berlapis Perempuan Gaza di Tengah Krisis Air

    Beban Berlapis Perempuan Gaza di Tengah Krisis Air

    Di tengah kehancuran akibat genosida Israel, krisis air di Gaza bukan sekadar persoalan sulit mendapatkan air minum. Bagi perempuan Gaza, kelangkaan air bersih juga menjadi ancaman terhadap keselamatan dan martabat mereka.

    Oxfam menguraikan tujuh dimensi dampak krisis air terhadap perempuan dan anak perempuan. Temuan tersebut bersumber dari wawancara mendalam dengan 21 perempuan dan anak perempuan di kamp pengungsian, sekolah penampungan, serta permukiman tenda informal di Jalur Gaza.

    Seberapa Parah Krisis Air yang Dihadapi Warga Gaza?

    UNICEF melaporkan pada 29 Mei 2026 bahwa sekitar 82% keluarga di Gaza mengalami kerawanan air. Bahkan, hingga 70% keluarga tidak dapat memperoleh enam liter air per orang per hari untuk minum dan memasak.

    Data UNICEF, 29 Mei 2026

    82%

    keluarga di Gaza mengalami kerawanan air, sementara hingga 70% tidak memperoleh enam liter air per orang per hari untuk minum dan memasak.

    Sumber: UNICEF State of Palestine.

    Kondisi tersebut memaksa keluarga menentukan kebutuhan mana yang harus diprioritaskan. Air yang tersedia mungkin cukup untuk minum, tetapi tidak untuk mandi, mencuci pakaian, atau menjaga kebersihan tempat tinggal. Akibatnya, kebutuhan dasar yang seharusnya berjalan bersamaan berubah menjadi pilihan yang sulit.

    Apa Saja Beban Berlapis yang Dihadapi Perempuan Gaza?

    Bagi perempuan, persoalan ini semakin berat karena mereka kerap memikul tanggung jawab ganda; mengasuh anak dan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kelangkaan air akhirnya memperbesar beban yang sebelumnya sudah muncul akibat pengungsian dan keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Berikut beban yang harus dipikul perempuan Gaza saat krisis air mencekik.

    1. Mengambil Air Menguras Tenaga dan Waktu

    Bantuan air bersih tak jarang berada jauh dari tempat tinggal, sehingga perempuan harus berjalan ratusan meter hingga beberapa kilometer, mengantre berjam-jam, kemudian membawa jeriken berat kembali ke tempat pengungsian. Aktivitas ini menguras tenaga, terutama bagi perempuan lanjut usia, ibu dengan anak kecil, dan mereka yang memiliki penyakit kronis.

    Waktu yang seharusnya digunakan untuk mendampingi anak belajar, beristirahat, atau memenuhi kebutuhan pribadi tersita untuk mencari air. Situasi ini menciptakan kemiskinan waktu, yaitu kondisi ketika seseorang kehilangan kesempatan melakukan kegiatan penting karena harus terus-menerus memenuhi kebutuhan dasar.

    2. Genosida Merenggut Keluarga, Perempuan Memikul Tanggung Jawab yang Tersisa

    Serangan Israel telah merenggut begitu banyak nyawa di Gaza, termasuk para ibu dan ayah yang menjadi penopang keluarga. Ketika suami meninggal, hilang, atau terluka parah, perempuan harus mengambil alih tanggung jawab yang sebelumnya dipikul bersama.

    Menurut laporan UN Women pada 8 September 2026, hampir satu dari empat rumah tangga di Gaza kini dikepalai perempuan, sekitar 86.290 rumah tangga. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan sebelum Oktober 2023. Bayangkan, betapa sulitnya perempuan yang menghidupi keluarga seorang diri. Ia harus mencari air sekaligus memastikan anggota keluarga lainnya tetap mendapatkan makanan serta kebutuhan kebersihan.

    Laporan Oxfam juga mencatat kesaksian tentang penghinaan, pelecehan verbal, dan rasa takut ketika perempuan mengakses titik distribusi air. Artinya, persoalannya bukan hanya seberapa jauh mereka harus berjalan, tetapi juga apakah mereka dapat memperoleh air tanpa menghadapi ancaman terhadap keselamatan dan martabatnya.

    3. Perempuan Hamil dan Menyusui Menghadapi Risiko Kesehatan

    Ketersediaan air yang tidak menentu menyulitkan perempuan hamil dan menyusui menjaga kebutuhan cairan serta kebersihan diri. Ibu yang merawat bayi juga membutuhkan air bersih untuk membersihkan peralatan makan, mencuci pakaian, dan menjaga lingkungan bayi tetap higienis.

    Ketika air bersih sulit diperoleh, risiko dehidrasi dan infeksi meningkat. Sementara itu, sanitasi yang buruk dapat memperbesar paparan terhadap penyakit, terutama bagi anak-anak yang tinggal di tempat penampungan padat dengan fasilitas kebersihan terbatas.

    4. Perempuan Lansia dan Penyandang Disabilitas Semakin Rentan

    Jarak titik air, jalur yang sulit dilalui, serta fasilitas toilet yang tidak ramah disabilitas membuat perempuan lansia dan penyandang disabilitas semakin bergantung pada bantuan orang lain. Sebagian terpaksa menunda mandi atau mencuci pakaian karena tidak mampu mengakses fasilitas secara mandiri.

    Ketergantungan tersebut membuat perempuan dapat kehilangan kendali atas kebutuhan tubuhnya sendiri. Oleh sebab itu, bantuan WASH atau air, sanitasi, dan kebersihan harus memperhitungkan aksesibilitas serta kebutuhan kelompok rentan.

    5. Menstruasi Menjadi Tantangan Tanpa Air dan Privasi

    Perempuan dan remaja putri membutuhkan air bersih, perlengkapan menstruasi, serta tempat yang aman dan privat untuk menjaga kebersihan selama menstruasi. Namun, keterbatasan pasokan dan fasilitas membuat sebagian perempuan Gaza terpaksa menggunakan kembali bahan yang tidak layak karena tidak memiliki alternatif.

    Kondisi ini meningkatkan ketidaknyamanan, risiko iritasi, dan kemungkinan infeksi. Selain itu, rasa malu serta ketakutan terhadap kebocoran atau pelecehan dapat membuat perempuan membatasi aktivitas di luar tempat tinggalnya.

    6. Sanitasi Buruk Meningkatkan Risiko Penyakit

    Toilet komunal yang padat, tidak bersih, minim air, dan kurang memberikan privasi dapat menyulitkan perempuan menjaga kebersihan diri. Apabila keluarga juga kekurangan sabun dan air untuk mencuci, penyakit kulit, diare, serta infeksi lebih mudah menyebar.

    Dampaknya tidak berhenti pada kesehatan fisik. Sanitasi yang tidak aman juga dapat meningkatkan kecemasan, membatasi mobilitas, dan membuat perempuan merasa rentan ketika harus menggunakan toilet atau mengambil air.

    7. Tekanan Psikologis Memperberat Penderitaan

    Ketidakpastian pasokan air, tanggung jawab terhadap keluarga, pengalaman pengungsian, serta risiko pelecehan menciptakan tekanan psikologis yang berkepanjangan. Bagi janda, perempuan yang bercerai, dan mereka yang tidak memiliki dukungan sosial, tekanan tersebut terasa semakin berat.

    Mengapa Bantuan Air Harus Memperhatikan Kebutuhan Perempuan?

    Dukungan air bersih membantu keluarga memenuhi kebutuhan minum dan kebersihan. Namun, penyalurannya juga perlu mempertimbangkan jarak, keamanan, akses bagi perempuan penyandang disabilitas, serta kebutuhan ibu dan anak. Dengan begitu, bantuan tidak hanya menjangkau warga, tetapi juga membantu mereka memenuhi kebutuhan dasar secara lebih aman dan bermartabat.

    Bantu Penuhi Kebutuhan Air Bersih di Gaza

    Di balik setiap kebutuhan air, ada perempuan Gaza yang berjuang menjaga kesehatan dirinya dan keluarganya. Melalui program Air Kehidupan Gaza, Anda dapat ikut mendukung upaya pemenuhan kebutuhan air darurat bagi warga Palestina.

    Salurkan donasi melalui rekening resmi Alquds Volunteers Indonesia (AVI):

    BSI 369 369 0004 a.n. AVI Peduli Kemanusiaan

    Mandiri 127 00 7223347 9 a.n. Yayasan Alquds Volunteers Indonesia

    Setelah berdonasi, konfirmasikan melalui WhatsApp 0811 820 196 untuk membantu proses pencatatan dan memperoleh informasi laporan penyaluran.

    FAQ Seputar Perempuan Gaza dan Krisis Air

    Apa hubungan krisis air dengan kesehatan perempuan Gaza?

    Kekurangan air bersih menyulitkan perempuan menjaga hidrasi, kebersihan tubuh, sanitasi, dan kebersihan menstruasi. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko dehidrasi, iritasi, serta penyakit yang berkaitan dengan air dan sanitasi yang buruk.

    Mengapa perempuan menanggung beban lebih besar saat mengambil air?

    Perempuan kerap memikul tanggung jawab pengasuhan dan kebutuhan rumah tangga. Ketika air sulit dijangkau, mereka harus menghabiskan waktu untuk berjalan, mengantre, dan membawa air, sekaligus menghadapi risiko keselamatan.

    Apa itu krisis WASH di Gaza?

    WASH merupakan singkatan dari *Water, Sanitation, and Hygiene*, yaitu air, sanitasi, dan kebersihan. Krisis WASH terjadi ketika masyarakat tidak memiliki akses memadai terhadap air aman, toilet yang layak, dan perlengkapan kebersihan.

    Bagaimana cara membantu perempuan dan keluarga di Gaza?

    Dukungan dapat diberikan melalui bantuan air bersih, perlengkapan kebersihan, sanitasi yang aman, dan bantuan kemanusiaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak.

  • Tiga Tahun Genosida Palestina, Saatnya Meneguhkan Kembali Solidaritas!

    Tiga Tahun Genosida Palestina, Saatnya Meneguhkan Kembali Solidaritas!

    Tiga tahun sejak 7 Oktober 2023, penderitaan warga Palestina di Gaza terus menguji kepedulian dunia. Meski perhatian publik dapat berubah seiring waktu, kebutuhan warga terhadap makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan tempat berlindung tetap mendesak. Karena itu, peringatan tiga tahun genosida Palestina seharusnya tidak berhenti pada refleksi, tetapi juga mendorong kita untuk menjaga solidaritas melalui tindakan nyata.

    Direktur Utama Alquds Volunteers Indonesia (AVI), Deni Syahid, memaparkan mengapa Indonesia harus terus berdiri bersama Palestina. Menurut Deni, Indonesia memiliki alasan kuat untuk mempertahankan dukungan tersebut. Baginya, solidaritas untuk Palestina adalah komitmen yang perlu dijaga, bukan sekadar ingat saat berita sedang ramai.

    Solidaritas untuk Palestina tidak cukup hanya diucapkan. Kita perlu menjaganya melalui kepedulian yang konsisten dan aksi kemanusiaan yang nyata.

    Genosida Palestina Menguji Konsistensi Solidaritas Indonesia

    Salah satu tantangan terbesar dalam krisis berkepanjangan ialah menjaga perhatian masyarakat. Ketika berita tentang Gaza muncul berulang kali, sebagian orang mulai menganggap penderitaan tersebut adalah hal biasa. Padahal, berkurangnya perhatian tidak membuat kebutuhan warga Palestina ikut berkurang.

    Deni mengingatkan bahwa lamanya krisis tidak seharusnya melemahkan keberpihakan Indonesia. Ia mengaitkan dukungan terhadap Palestina dengan tiga landasan utama, yaitu amanat konstitusi, tanggung jawab keagamaan, dan kewajiban kemanusiaan. Dengan demikian, masyarakat memiliki alasan yang lebih mendasar untuk terus bersuara dan membantu, bahkan ketika sorotan media mulai beralih.

    Tiga landasan untuk terus mendukung Palestina menurut Deni Syahid dalam opininya, “Tiga Tahun Genosida Gaza, Mengapa Indonesia Harus Berdiri untuk Palestina?“

    01. Amanat Konstitusi

    Pembukaan UUD 1945 menegaskan penolakan terhadap penjajahan karena bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

    02. Tanggung Jawab Keagamaan

    Nilai kepedulian dan persaudaraan mendorong umat untuk membantu mereka yang tertindas serta menghadapi kesulitan.

    03. Prinsip Kemanusiaan

    Setiap manusia berhak atas kehidupan yang aman, makanan, layanan kesehatan, dan perlindungan dari kekerasan.

    Setelah memahami alasan tersebut, kita juga perlu menerjemahkannya menjadi langkah yang bisa dilakukan secara berkelanjutan. Misalnya, masyarakat dapat menjaga isu Palestina tetap mendapat perhatian dengan membagikannya di media sosial. Mendukung penyaluran bantuan melalui lembaga kemanusiaan yang jelas program dan pelaporannya juga bisa menjadi langkah penting untuk berdiri di sisi warga Palestina.

    Mengubah Solidaritas Menjadi Bantuan Nyata Saat Genosida Palestina

    Jarak geografis tidak harus membatasi kepedulian. Masyarakat Indonesia tetap dapat membantu warga Gaza dengan mendukung program kemanusiaan yang menjawab kebutuhan mereka di lapangan.

    Untuk menghubungkan kepedulian dengan bantuan langsung, Alquds Volunteers Indonesia (AVI) menjalankan program kemanusiaan bagi warga Palestina. Relawan dan ulama AVI hadir langsung di Gaza. Kehadiran ini menjadi bagian dari upaya AVI untuk memahami kondisi lapangan dan mendukung penyaluran bantuan sesuai kebutuhan.

    Program Pangan

    Makan Bergizi Gaza (MBG)

    Program ini membantu memenuhi kebutuhan pangan anak-anak Gaza melalui bantuan makanan. Melalui donasi rutin, masyarakat dapat ikut menjaga kesinambungan dukungan pangan bagi anak-anak yang membutuhkan.

    Program Air Bersih

    Air Kehidupan Gaza

    Program ini mendukung penyediaan air bersih bagi warga Gaza. Selain untuk minum, warga membutuhkan air untuk memasak, menjaga kebersihan, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    Melalui program-program tersebut, AVI mengajak masyarakat mengubah rasa prihatin menjadi dukungan yang nyata dan terarah. Anda juga dapat mengetahui program lain yang dijalankan AVI melalui tautan ini.

    Jaga Solidaritas untuk Palestina, Mulai dari Langkah Nyata

    Tiga tahun genosida Palestina mengingatkan kita bahwa solidaritas tidak boleh bergantung pada momentum. Setelah mengetahui apa alasan untuk terus membela Palestina melalui penjabaran Deni Syahid, kini tantangan bagi kita semua ialah menjaga nilai tersebut tetap hidup melalui tindakan yang konsisten.

    Karena itu, mari terus mengikuti informasi dari sumber tepercaya, mengedukasi lingkungan sekitar, dan membantu kebutuhan kemanusiaan warga Gaza. Sekecil apa pun kontribusinya, dukungan yang Anda berikan dapat menjadi bagian dari upaya kolektif untuk meringankan beban mereka.

    Salurkan Donasi Palestina melalui AVI

    Mari teruskan solidaritas untuk warga Gaza melalui program kemanusiaan Alquds Volunteers Indonesia (AVI). Anda dapat menyalurkan donasi melalui rekening resmi berikut.

    Bank Syariah Indonesia (BSI)

    369 369 0004

    a.n. AVI Peduli Kemanusiaan

    Bank Mandiri

    127 00 7223347 9

    a.n. Yayasan Alquds Volunteers Indonesia

    Setelah berdonasi, konfirmasikan melalui WhatsApp 0811 820 196 untuk mendapatkan informasi dan laporan penyaluran bantuan.

    Pertanyaan Umum tentang Solidaritas untuk Palestina

    Mengapa Indonesia perlu terus mendukung Palestina?

    Dukungan Indonesia berlandaskan amanat konstitusi untuk menentang penjajahan, nilai keagamaan yang mendorong kepedulian terhadap pihak tertindas, serta prinsip kemanusiaan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

    Bagaimana cara membantu warga Gaza dari Indonesia?

    Masyarakat dapat membagikan informasi terverifikasi, meningkatkan kesadaran publik, dan menyalurkan donasi melalui lembaga kemanusiaan yang menjelaskan program serta pelaporan bantuannya.

    Apa program bantuan AVI untuk warga Gaza?

    AVI menjalankan berbagai program kemanusiaan, di antaranya Makan Bergizi Gaza (MBG) untuk membantu kebutuhan pangan anak-anak dan Air Kehidupan Gaza untuk mendukung penyediaan air bersih.

  • Saat Kelahiran di Gaza Harus Berhadapan dengan Krisis Kemanusiaan

    Saat Kelahiran di Gaza Harus Berhadapan dengan Krisis Kemanusiaan

    Kelahiran di Gaza berlangsung dalam kondisi yang jauh dari aman. Kenaikan kelahiran prematur dan bayi dengan berat badan rendah kerap terjadi ketika ibu dihadapkan pada situasi yang mengerikan. Berdasarkan laporan UNFPA periode Juli-Agustus 2025, lebih dari 60% ibu hamil dan ibu baru melahirkan mengalami malnutrisi, yang berdampak pada kesehatan bayi.

    Karena itu, persoalan kelahiran di Gaza tidak berhenti pada proses persalinan. Kondisi ibu selama kehamilan ikut menentukan kesehatan bayi, sedangkan kondisi fasilitas kesehatan menentukan apakah bayi yang lahir terlalu dini mendapatkan kesempatan untuk bertahan.

    Kelahiran prematur di Gaza erat kaitannya dengan krisis yang berlangsung sejak masa kehamilan. Pada saat yang sama, bayi prematur membutuhkan perawatan khusus yang justru semakin sulit tersedia.

    Mengapa Kelahiran Prematur Menjadi Tanda Krisis Sejak Masa Kehamilan?

    Rahma Hidayani, Wakil Direktur Utama Alquds Volunteers Indonesia (AVI) melihat kelahiran prematur di Gaza bukan sekadar persoalan medis. Menurutnya, kondisi ibu sejak masa kehamilan ikut menentukan kondisi bayi saat lahir. Perempuan hamil di Gaza sering kali menghadapi hambatan serius untuk memperoleh layanan kesehatan, sementara kekurangan obat, alat pemeriksaan, dan perlengkapan persalinan turut memperbesar risiko bagi ibu dan bayi.

    Malnutrisi ibu, stres kronis, dan terbatasnya layanan antenatal memperburuk kehamilan di Gaza. UNFPA melaporkan dari 17.000 kelahiran di enam bulan pertama tahun 2025, 5.560 bayi atau 33% lahir prematur, memiliki berat badan rendah, dan membutuhkan NICU.

    Apa yang Membuat Kehamilan di Gaza Semakin Berisiko?

    Di tengah genosida dan krisis kemanusiaan, risiko kehamilan tidak muncul dari satu faktor. Kondisi tersebut terbentuk dari beberapa tekanan yang terjadi secara bersamaan.

    Stress Berkepanjangan. Ketidakpastian hidup, kehilangan tempat tinggal, dan pengungsian berulang memberikan tekanan psikologis yang dapat memengaruhi kesehatan ibu dan kehamilan.
    Kekurangan nutrisi. Ibu membutuhkan energi, protein, vitamin, dan mineral yang cukup selama kehamilan. Di masa krisis kemanusiaan dan genosida, kekurangan gizi meningkatkan risiko komplikasi dan bayi lahir dengan berat badan rendah.
    Terbatasnya pemeriksaan kehamilan. Pemeriksaan antenatal membantu mendeteksi masalah seperti anemia, tekanan darah tinggi, gangguan pertumbuhan janin, dan komplikasi lainnya sejak awal. Sayangnya, keterbatasan alat dan akses membuat pemeriksaan sulit dilakukan.
    Pengungsian dan tempat tinggal tidak stabil. Perpindahan membuat ibu semakin sulit mempertahankan jadwal pemeriksaan, memperoleh makanan bergizi, serta mencapai fasilitas kesehatan ketika membutuhkan pertolongan.

    Ketika Bayi Prematur Lahir, Rumah Sakit Menghadapi Persoalan Berikutnya

    Bayi prematur belum memiliki kematangan organ seperti bayi yang lahir cukup bulan. Karena itu, sebagian bayi membutuhkan pengawasan intensif, bantuan oksigen, pengaturan suhu tubuh, pemantauan tanda vital, serta perawatan neonatal khusus.

    Persoalannya, kebutuhan tersebut muncul ketika fasilitas kesehatan Gaza sendiri menghadapi keterbatasan. Berdasarkan data UNICEF, sekitar satu dari lima bayi baru lahir membutuhkan perawatan neonatal intensif dan termal. Pada saat yang sama, rumah sakit menghadapi kekurangan peralatan medis, termasuk inkubator dan ventilator.

    Kondisi tersebut terlihat jelas di Nasser Medical Complex, Khan Younis. Pada September 2026, Dr. Hatem Dhahir melaporkan peningkatan bayi prematur, termasuk bayi kembar, sementara keterbatasan inkubator membuat tenaga medis menempatkan dua hingga tiga bayi dalam satu inkubator. Rumah sakit juga menghadapi kekurangan oksigen dan sulit memindahkan pasien karena fasilitas lain telah penuh.

    Data penting tentang bayi baru lahir di Gaza

    Sekitar 1 dari 5 bayi membutuhkan perawatan neonatal intensif dan termal, sementara kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah meningkat.

    Kelahiran di Gaza Adalah Persoalan Dua Generasi

    Kesehatan ibu dan bayi tidak dapat dipisahkan. Rahma juga mengungkapkan bahwa dukungan bagi ibu dan bayi tidak cukup diberikan ketika persalinan berlangsung. Jika masalah sudah muncul sejak masa kehamilan, maka bantuan juga perlu dimulai sejak masa tersebut.

    Ibu membutuhkan makanan bergizi, pemeriksaan kehamilan, dukungan kesehatan mental, obat dan suplemen yang diperlukan, serta akses menuju layanan kesehatan. Setelah bayi lahir, kebutuhan berlanjut pada perawatan neonatal, pemantauan kesehatan, nutrisi, kebersihan, dan perlindungan dari kondisi lingkungan yang berisiko. Untuk itu, dukungan maternal dan neonatal harus berjalan sebagai satu rangkaian.

    Karena itu, jika kita menyoroti kelahiran di Gaza, artinya kita harus melihat keseluruhan rantai kebutuhan, mulai dari kesehatan ibu sebelum persalinan hingga perawatan bayi setelah lahir. Perspektif ini penting agar bantuan kemanusiaan tidak hanya merespons keadaan darurat ketika bayi sudah lahir, tetapi juga mengurangi risiko yang dapat dicegah sejak kehamilan.

    Apa yang Dibutuhkan Ibu dan Bayi di Gaza?

    Kebutuhan ibu dan bayi berubah sesuai tahapannya, tetapi semuanya saling berkaitan. Secara sederhana, dukungan yang dibutuhkan mencakup:

    Tahap Kebutuhan utama
    Kehamilan Nutrisi, suplemen, pemeriksaan antenatal, dukungan kesehatan mental, dan akses layanan kesehatan.
    Persalinan Tenaga kesehatan, obat, perlengkapan persalinan, darah, serta fasilitas yang aman dan higienis.
    Bayi prematur Inkubator, oksigen, pengaturan suhu, pemantauan intensif, obat, dan perawatan neonatal.
    Setelah persalinan Nutrisi ibu dan bayi, kebersihan, pemeriksaan lanjutan, serta lingkungan yang lebih aman.

    Di sinilah bantuan kemanusiaan perlu hadir secara menyeluruh. Alquds Volunteers Indonesia (AVI) mengembangkan bantuan dengan melihat kebutuhan warga Gaza secara langsung. Kehadiran relawan dan ulama AVI di Gaza menjadi bagian penting dari cara AVI memahami kebutuhan penerima manfaat, bukan sekadar menyalurkan bantuan dari Indonesia.

    Bantu Ibu dan Bayi Gaza Mendapat Kesempatan untuk Bertahan

    Kelahiran seharusnya menjadi awal kehidupan, bukan awal dari perjuangan melawan kekurangan nutrisi, keterbatasan layanan kesehatan, dan fasilitas neonatal yang tidak memadai. Seperti yang ditekankan Rahma Hidayani, setiap kehidupan membutuhkan kesempatan untuk bertahan dan tumbuh. Karena itu, dukungan bagi ibu dan bayi perlu hadir sejak masa kehamilan hingga setelah persalinan.

    Anda dapat ikut mendukung bantuan kemanusiaan melalui Alquds Volunteers Indonesia (AVI). Donasi dapat disalurkan melalui rekening resmi berikut:

    BSI 369 369 0004 a.n. AVI Peduli Kemanusiaan

    Mandiri 127 00 7223347 9 a.n. Yayasan Alquds Volunteers Indonesia

    Setelah berdonasi, konfirmasikan melalui WhatsApp 0811 820 196 agar penyaluran dapat dicatat dan Anda memperoleh laporan penyaluran.

    FAQ Seputar Kelahiran di Gaza

    Apa penyebab meningkatnya kelahiran prematur di Gaza?

    Beberapa faktor saling berkaitan, terutama malnutrisi ibu, stres berkepanjangan, pengungsian, serta terbatasnya pemeriksaan dan layanan antenatal.

    Mengapa bayi prematur membutuhkan perawatan khusus?

    Bayi prematur membutuhkan bantuan untuk menjaga suhu tubuh, bernapas, memperoleh nutrisi, dan memantau kondisi vitalnya. Karena itu, sebagian membutuhkan perawatan neonatal intensif.

    Mengapa pemeriksaan kehamilan penting bagi ibu di Gaza?

    Pemeriksaan antenatal membantu tenaga kesehatan mendeteksi risiko pada ibu dan janin lebih awal serta menentukan kebutuhan perawatan sebelum komplikasi menjadi lebih berat.

    Apa bentuk bantuan untuk ibu dan bayi di Gaza?

    Kebutuhannya mencakup makanan bergizi, pemeriksaan kehamilan, obat dan suplemen, layanan persalinan, serta perawatan neonatal seperti inkubator, oksigen, dan perlengkapan medis.

  • Bagaimana Warga Gaza Bersiap Hadapi Musim Dingin Palestina?

    Bagaimana Warga Gaza Bersiap Hadapi Musim Dingin Palestina?

    Bagi warga Gaza, musim dingin Palestina bukan sekadar perubahan cuaca. Ketika hujan deras turun, angin bertiup kencang, dan suhu malam menurun, keluarga yang tinggal di tenda atau bangunan rusak harus kembali menghadapi ancaman terhadap tempat tinggal dan kesehatan mereka. Kondisi tersebut sangat membahayakan anak-anak dan orang tua yang sudah rentan.

    UNICEF mencatat bahwa hampir 84 persen penduduk Gaza, atau lebih dari 1,76 juta orang, masih tinggal di lokasi pengungsian yang padat atau shelter yang tidak memadai. Karena itu, banyak keluarga hanya memiliki perlindungan terbatas dari udara dingin, hujan deras, dan banjir. Bahkan, pada musim dingin sebelumnya, sedikitnya 11 anak dilaporkan meninggal akibat hipotermia.

    Gambaran kondisi musim dingin di palestina

    Pada musim dingin 2025–2026, UNICEF mencatat suhu malam sekitar 8–11°C dengan angin kencang mencapai 30–40 km/jam.

    Karena kondisi tempat tinggal mereka sangat terbatas, warga Gaza melakukan berbagai persiapan sederhana. Mereka memperbaiki tenda, memperkuat shelter, menjaga pakaian tetap kering, serta berusaha melindungi keluarga dari hujan dan udara dingin. Setiap langkah tersebut membantu menghadapi cuaca yang semakin berat.

    Memperbaiki dan Memperkuat Tenda Sebelum Hujan

    Banyak keluarga masih mengandalkan tenda sebagai tempat tinggal setelah kehilangan rumah atau berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Namun, hujan dan angin dapat dengan cepat merusak material tenda yang sudah lama digunakan.

    Karena itu, keluarga di Gaza harus segera memperbaiki bagian yang robek atau bocor dan menguatkan tenda yang longgar sebelum hujan berikutnya datang. Ketika air sudah masuk, mereka juga perlu mengeluarkan genangan air, mengangkat kasur, dan berusaha mengeringkan pakaian serta barang-barang yang terkena air.

    Sebelum hujan

    Keluarga memperbaiki bagian tenda yang rusak dan memperkuat shelter agar lebih mampu menahan angin serta hujan.

    Saat air masuk

    Mereka mengeluarkan genangan, mengangkat kasur dan barang penting, kemudian mengeringkan pakaian serta perlengkapan keluarga.

    Menutup Celah pada Tempat Tinggal yang Rusak

    Selain tinggal di tenda, tidak sedikit juga keluarga bertahan di bangunan rusak. Kondisi tersebut membuat mereka dihadapkan pada persoalan lain ketika hujan turun. Air dapat masuk melalui bagian bangunan yang terbuka dan kemudian membasahi ruang tempat mereka tidur.

    Oleh sebab itu, keluarga harus berusaha menutup bagian yang terbuka dan memperbaikinya dengan bahan yang masih tersedia. Sulit untuk mendapatkan material bangunan dengan kondisi Gaza yang masih dalam keterbatasan. Akibatnya, mereka harus mampu bertahan dengan cara menjaga area tetap kering dan terlindung semaksimal mungkin.

    Keluarga di Gaza bukan sekadar mempertahankan kenyamanan. Dengan kondisi yang sulit, para orang tua harus berusaha menjaga tempat tinggal tetap kering, mengurangi paparan angin, dan menciptakan ruang yang lebih aman bagi anak-anak serta anggota keluarga yang rentan.

    Menjaga Kasur, Pakaian, dan Barang Penting Tetap Kering

    Hujan juga mengancam barang-barang yang digunakan setiap hari. Kasur, selimut, pakaian, dan perlengkapan lain dapat ikut terendam ketika air masuk ke dalam shelter atau menggenangi area pengungsian.

    Karena itu, warga berusaha mengangkat barang dari permukaan tanah dan memindahkannya ke tempat yang lebih tinggi. Setelah hujan berhenti, tak ada istirahat atau waktu berdiam. Mereka harus segera mengeringkan barang-barang yang basah agar tetap dapat digunakan. Hal ini sangatlah penting karena keluarga hanya memiliki sedikit barang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    Mencari Bahan Bakar untuk Memasak dan Menghangatkan Diri

    Ketika suhu turun, keluarga di Gaza juga membutuhkan sumber energi untuk memenuhi kebutuhan dasar. Mereka perlu memasak makanan sekaligus menghadapi udara dingin di tempat tinggal yang tidak memiliki pemanas memadai.

    Namun, keterbatasan bahan bakar membuat kebutuhan tersebut semakin sulit dipenuhi. Hampir semua keluarga kesulitan mendapatkan gas dan listrik. Material seadanya seperti kayu, sampah, kain, dan benda-benda mudah terbakar lain bisanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Sayangnya, asap pembakaran yang memberikan kehangatan ini menimbulkan masalah kesehatan, membuat banyak anak terserang penyakit pernapasan.

    Menyiapkan Selimut dan Pakaian Hangat

    Keluarga juga perlu melindungi tubuh dari suhu rendah. Selimut, pakaian hangat, jaket, dan perlengkapan musim dingin menjadi kebutuhan penting, terutama bagi anak-anak. UNICEF menyebut bayi, anak kecil, dan anak dengan kondisi kesehatan tertentu lebih rentan mengalami hipotermia dan infeksi saluran pernapasan ketika menghadapi suhu dingin. Karena sulitnya memenuhi kebutuhan, banyak warga Gaza yang mengandalkan bantuan internasional.

    Bagi anak-anak, suhu dingin menambah risiko

    Ketika anak tinggal di shelter yang basah, padat, dan tidak memadai, udara dingin dapat memperburuk kondisi yang sudah rentan. Karena itu, perlindungan sederhana seperti tempat tidur yang kering, pakaian hangat, dan shelter yang lebih tertutup memiliki peran penting.

    Musim Dingin Palestina Lebih dari Sekadar Turunnya Suhu

    Bagi banyak keluarga di Gaza, datangnya musim dingin bukan hanya sekadar menyaksikan turunnya suhu. Di tengah genosida yang masih terjadi, mereka perlu mempertahankan tempat tinggal yang tersisa. Kemampuan keluarga untuk bertahan pun sangatlah sulit. Banyak shelter tidak memberikan perlindungan yang memadai, sementara hujan deras dan banjir dapat merusaknya kembali.

    AVI Hadir dengan Program Bantuan Musim Dingin

    Melihat kebutuhan tersebut, Alquds Volunteers Indonesia (AVI) berusaha hadir untuk saudara-saudara kita di Palestina melalui Program Bantuan Musim Dingin Palestina. AVI menyesuaikan bantuan dengan kebutuhan di lapangan, mulai dari makanan hangat, pakaian dan jaket, selimut, hygiene kit, obat-obatan, bahan bakar, hingga air bersih.

    AVI tidak hanya memantau kebutuhan dari Indonesia. Relawan dan ulama AVI hadir langsung di Gaza. Kehadiran tersebut memungkinkan AVI memperoleh gambaran kebutuhan warga Palestina di Gaza dari kondisi lapangan dan kemudian menyesuaikan bantuan yang disalurkan.

    Bukan dari Jakarta. Dari Gaza.
    AVI membawa informasi dan kebutuhan dari lapangan agar bantuan dapat mengikuti kondisi nyata yang dihadapi warga Palestina.

    Bantu Kebutuhan Musim Dingin Gaza melalui AVI

    Musim dingin menambah kebutuhan keluarga yang sudah hidup dengan keterbatasan. Anda dapat ikut membantu melalui Program Bantuan Musim Dingin Palestina AVI agar kebutuhan warga Palestina di Gaza dapat terus dipenuhi sesuai kondisi di lapangan.

    BSI: 369 369 0004
    a.n. AVI Peduli Kemanusiaan

    Mandiri: 127 00 7223347 9
    a.n. Yayasan Alquds Volunteers Indonesia

    Konfirmasi donasi dan informasi program: WhatsApp 0811 820 196. AVI berkomitmen menyampaikan laporan penyaluran bantuan kepada donatur.

    FAQ Musim Dingin Palestina di Gaza

    Bagaimana warga Gaza bersiap menghadapi musim dingin?
    Warga memperbaiki dan memperkuat tenda, menutup bagian shelter yang terbuka, mengangkat kasur dan barang dari genangan, mengeringkan pakaian, serta menyiapkan pakaian dan perlengkapan untuk menghadapi cuaca dingin.

    Seberapa dingin musim dingin di Gaza?
    Dalam laporan UNICEF pada Januari 2026, suhu malam di Gaza berada sekitar 8–11°C. Pada saat yang sama, angin kencang dapat mencapai sekitar 30–40 km/jam.

    Mengapa musim dingin berbahaya bagi anak-anak Gaza?
    Bayi dan anak kecil lebih rentan terhadap hipotermia serta infeksi saluran pernapasan ketika mereka tinggal di shelter yang dingin, basah, padat, dan tidak memadai.

    Berapa banyak warga Gaza yang masih tinggal di shelter yang tidak memadai?
    UNICEF memperkirakan hampir 84 persen penduduk Gaza, atau lebih dari 1,76 juta orang, masih tinggal di lokasi pengungsian yang padat atau shelter yang rusak dan tidak memadai.